Dina ....Oh Dina

image

Share

Cerpen

Dina…. Oh Dina

oleh Noorlaksmita Yonas Ramadhanty

 

 Ah! Selalu saja begitu!

Dina melepas sepatunya dan melemparnya sembarangan. Kakaknya, Bayu, yang sedang mengepel lantai berteriak heboh. “Dinaaa! Jangan lempar sepatu sembarangan! Nggak liat gue udah capek-capek begini heeehh!”

Dina melengos kemudian mengambil sepatunya. Bayu menoyor kepala sang adik. “Lo udah gede. Jangan manja lagi dong,” kata Bayu.

“Apaan sih lo,” balas Dina sambil ngeloyor pergi.

Hari ini adalah hari yang berat bagi Dina. Di sekolah, dia harus berhadapan dengan guru BK karena ketahuan membolos saat upacara. Di kelas, dia terpaksa mengikuti remedial karena hasil ulangan Matematikanya berada diurutan lima terbawah. Belum lagi pacarnya, Edu, yang meminta putus tanpa alasan yang jelas.

Dina membuka pintu kamar dan langsung merebahkan tubuhnya. “Tuhan, jangan kasih gue cobaan lagi dong hari ini,” keluh Dina. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Nggak sopan banget sih lo sama Tuhan. Dia mau ngasih cobaan atau nggak kan terserah Dia.” Bayu yang sedang mengepel lantai di depan kamar sang adik ikut menyambung. Dina mendengus.

“Nggak usah sok tau kalau lo nggak ngerti masalahnya,” sambar Dina. Bayu terkikik. “Kurang sedekah kali lo,” kata Bayu lagi. Dina menggeram gemas. Dia segera bangkit dan menghampiri kakaknya.

“Berisik banget sih lo!” bentak Dina. Dia segera memakai sendalnya kemudian sengaja melompat-lompat di lantai yang masih basah.

“Woy! Jangan diinjek lagi lantainya! Woy!”

+++

Dina adalah siswi SMA 4 Yogyakarta yang duduk di bangku kelas dua. Otaknya yang pas-pasan memaksanya untuk masuk di kelas IPA 6, kelas yang berisi murid-murid dengan kapasitas otak terbatas. Sebenarnya Dina tidak bodoh. Hanya saja terkadang rasa malas yang betah tinggal di jiwanya sering kambuh, membuat Dina malas belajar, malas sekolah, malas semuanya.

Dina memiliki seorang pacar. Dia bukanlah tipe cowok yang banyak digandrungi oleh cewek-cewek di sekolah. Namanya Edu. Tidak ada yang pantas dibanggakan dari seorang Edu selain otaknya yang   jenius   dan orang tuanya yang kaya raya. Namun itu semua bukanlah alasan mengapa Dina mau menerima Edu saat ditembak dulu. Menurut Dina, Edu benar-benar manusia “Jawa”. Kedua orang tua Edu adalah orang Jawa tulen. Begitu pula dengan kakek- neneknya, eyang buyutnya, sampai leluhurnya. Semua orang Jawa tulen. Hanya ada satu dari sekian juta orang yang demikian, dan Dina berpikir bahwa Edu adalah ciptaan Tuhan yang “limited edition” dan pantas untuk dikoleksi.

Dina duduk di pohon jambu yang berdiri kokoh di depan rumahnya. Dengan sekali gigitan dia menggigit batang pohon, eh, buah jambu yang telah dipetiknya. Otaknya sibuk berpikir bagaimana caranya agar Edu mau kembali dengannya.

“Woy!” terdengar suara dari bawah. Dina menunduk dan mendapati sang kakak sedang berdiri sambil membawa kain pel.

“Bagi buah jambunya dong,” kata Bayu lagi. Dina mendongak. Masih ada beberapa butir di dahan atas.

“Tuh, masih banyak. Ambil aja,” jawab Dina tenang sambil menggigit kembali buah jambunya.

“Sarap! Maksud gue, tolong petik sekalian,” kata Bayu. Mulut Dina membulat. Dia memetik sebutir jambu di atas kepalanya dan hendak melemparkannya pada Bayu, namun tiba-tiba terhenti saat melihat sang kakak telah membawa sebatang sapu.

“Ngapain lo?”

“Udah, lempar aja. Gue yang tangkep,” kata Bayu sambil mengatur kuda-kuda. Dina menurut dan melemparkan buah jambu itu pada Bayu. Tanpa diduga, Bayu memukul buah jambu dengan gagang sapu yang dibawanya. Buah itu langsung terbelah menjadi beberapa bagian.

“Nah, kalo gini kan gue nggak butuh pisau lagi buat motong-motong buahnya,” kata Bayu. Dina menepuk dahinya. Sarap… sarap…

“Lo lagi kenapa sih?” tanya Bayu yang kini telah duduk di balkon lantai dua. Letak pohon jambu dan balkon rumah memang tidak terlalu jauh. Bodoh sekali jika kalian berpikir Dina harus capek-capek memanjat pohon untuk memetik buahnya. Cukup naik ke lantai dua, Dina sudah bisa bergelayutan dengan santai di pohon.

“Gue diputusin sama Edu nih,” kata Dina. Bayu ngakak. “Apa gue bilang. Lo nggak cukup unik buat dia,” jawab Bayu.

“Dipajang bareng koleksi asbaknya aja lo nggak pantes,” lanjutnya. Dina melempar biji jambu yang sudah sempat dikunyahnya.

“Tapi gue sayang sama dia, Kak,” kata Dina lagi.

“Emangnya masalah apa sih yang bikin kalian putus?” tanya Bayu. Kali ini sepotong besar jambu menghuni mulutnya.

“Edu jalan sama cewek lain,” kata Dina. Bayu mengangguk-angguk. Dia berusaha menelan jambu di mulutnya. “Kena karma lo ya?”

“Maksud lo?” tanya Dina sambil menatap kakaknya. Bayu menggedikkan bahu. “Ya mungkin… lo pernah melakukan hal yang sama terhadap Edu,” katanya

Dina merenung sejenak. “Gue setia kok sama dia,” katanya kemudian. Bayu kembali mengangguk-angguk. Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam rumah.

“Baaayuuu!! Diinnaaa!! Ini kan bulan Ramadhan!! Memangnya kalian nggak puasa?!”

Bayu segera membuang jambunya dan meludah berkali-kali, namun tidak dengan Dina. “Lo nggak puasa?” tanya Bayu.

“Diem dulu. Kata orang, puasa kita nggak bakalan batal kalo kita kelupaan. Makanya jangan ingetin kalo gue puasa hari ini,” jawab Dina.

“Sarap!”

+++

“Edu, gue mau ngomong,” kata Dina saat mereka bertemu di perpustakaan siang itu. Edu tetap serius dengan bukunya.

“Edu, gue masih sayang sama lo,” kata Dina.

“Terus?” tanya Edu tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang dia baca.

“Gue pengen kita barengan lagi,” kata Dina lagi. Tiba-tiba Edu tertawa.

“Edu, gue serius. Gue masih sayang banget sama lo,” kata Dina. Kali ini Edu tersenyum, namun tetap tidak memberikan jawaban. “Apa yang harus gue lakukan buat membuktikan kalo gue sayang sama lo, Du?”

Tiba-tiba Edu menoleh. Di telinganya terpasang dua buah headset mini. “Sori, Din. Gue lagi baca komik nih. Lo ngomong apa tadi?” tanya Edu.

Dina menepuk dahinya. Dia mengatur nafas sejenak. “Gue pengen tau kenapa lo mutusin gue,” kata Dina. Edu menutup komik yang sedang dibacanya.

“Pertama, lo anggep gue barang antik yang bisa seenaknya lo jadiin koleksi dan lo pamerin ke temen-temen lo,” kata Edu.

Dina tampak kaget.

“Kedua, lo nyamain gue sama sepatu-sepatu antik nyokap lo yang waktu itu gue liat dipajang di kaca!” lanjut Edu.

Mata Dina berkaca-kaca.

“Alasan yang paling parah adalah lo bilang gue ciptaan Tuhan yang limited editon!” bentak Edu lagi.

Dina mulai menangis.

“Terakhir, gue baru tau kalo lo bukan orang Jawa asli!” kata Edu. Dina kaget.

“Tapi gue orang Jawa asli, Du. Beneran deh,” kata Dina sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.

“Bukan! kakek dari eyang buyut lo berdarah Batak,” lanjut Edu. Dina tampak bingung.

“Setau gue dia berdarah Jawa kok,” sahut Dina. Edu menggeleng.

“Nenek dari eyang buyut lo berdarah Batak. Dia menikah sama kakek eyang buyut lo. Akhirnya ayah eyang buyut lo lahir dan menikah dengan ibu eyang buyut lo yang berdarah Jawa. Terakhir, eyang buyut lo lahir, kemudian…”

Edu masih melanjutkan penjelasannya. Dina melongo. Rahang bawahnya sudah serendah lututnya sekarang.

“Sori, Din. Tapi gue cuma mau pacaran sama orang berdarah Jawa asli,” kata Edu menutup penjelasannya. Tanpa diduga, semua pengunjung perpustakaan memberikan applause atas analisis Edu yang demikian terinci. Edu sendiri tersenyum lebar dan mengucapkan terimakasih.

Rahang bawah Dina serta merta jatuh ke lantai.

+++

“Kenapa lagi lo?” tanya Bayu saat sang adik kembali dari sekolah. Dina mendengus kesal. “Pasti urusan Edu lagi. Iya kan?” tanya Bayu.

“Ternyata kita bukan orang Jawa tulen, Kak,” kata Dina. Bayu segera duduk di samping adiknya. Dina menceritakan analisis Edu yang sangat terperinci. Bayu langsung bertepuk tangan.

“Emang limited edition tuh anak. Gue aja nggak tau silsilah keluarga kita bisa serumit itu,” jawab Bayu setelah Dina selesai bercerita.

“Nggak ada alasan lagi buat balikan sama dia. Dia cuma mau pacaran sama cewek berdarah Jawa asli,” kata Dina sambil bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan dengan gontai.

“Sebenernya lo juga tipe cewek yang limited edition kok,” kata Bayu sambil berjalan di samping Dina. Dia merangkul pundak sang adik.

“Biar gue jelasin di dalem.”

+++

Keesokan harinya, Dina menghadang Edu di gerbang sekolah.

“Ngapain lo?” tanya Edu. Dina menggandeng tangan Edu sampai ke sudut sekolah.

“Kalo gue berhasil buktiin kalo gue masih sayang sama lo, apa lo mau janji balikan lagi sama gue?” tanya Dina. Edu mencibir.

“Gue punya bukti kalo gue juga cewek yang limited edition, persis seperti lo!” kata Dina gemas melihat Edu yang sedari tadi menatapnya.

“Pertama, gue jatuh cinta sama lo, orang yang dianggap paling aneh satu sekolah gara-gara lo super duper culun. Nggak ada cewek yang mau sama lo. Ngeliat muka lo aja kagak.”

“Kedua, gue betah berlama-lama di deket lo sedangkan cewek-cewek lain langsung menghindar gara-gara lo nggak pernah pake deodorant dan bau badan!”

“Ketiga, gue mau jalan bareng sama lo meskipun gue harus bayarin lo makan sepuasnya di restoran, padahal orang tua lo lebih kaya dari juragan kain batik!”

“Terakhir, yang paling membuktikan kalo gue limited edition adalah gue mau pacaran sama lo. Cowok yang dianggap paling menyedihkan di sekolah ini sekaligus cowok yang memegang rekor belum pernah pacaran sejak bayi!”

Dina menyelesaikan kalimatnya. Nafasnya terengah-engah. Edu melongo mendengar penjelasan Dina. Dia menggenggam tangan Dina dan menatap matanya.

“Lo emang limited edition Din,” kata Edu. Mata Dina berbinar. Akhirnya Edu mau balikan sama gue, batinnya.

  “OTAK LO TUH YANG LIMITED EDITION!” bentak Edu sambil meninggalkan Dina. Dina menggeram marah. Semua gara-gara Bayu!

“Dasar kak Bayu! Sarap banget ide lo!”

 

Wed, 12 Oct 2011 @10:27


1 Komentar
image

Tue, 3 Jan 2012 @10:03

nenny

funny story :)


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+9+9

Majalah Gradasi
image

Edisi Januari 2014

Pesan Telp: 024-76480185 SMS: 08562547735


Majalah Remaja Lepas-Bebas-Cerdas
Dibaca Enak, Ditenteng Nyaman
Artikel Terbaru
Arsip

::. RUBRIK PILIHAN .::
:. Redaksi .:

     

 

     

Kontak Kami Klik Disini

 

 

 

 

 

.: G-Magz Digital :.
:. DAFTAR BIRO .:
WEBMAIL

-Masukkan Email dengan Lengkap

 contoh : priyo@gradasi-magz.com

 Password (sering diganti)

:. Jam / Tgl Sekarang .:

See on Youtube
Tukar Link

Visitor
free counters
:. ADVERTENSI .:

          


  DeBest FM

ALFAMART
 
 
 
 
Panen Dollar Tiap Hari
:. Fan Page .:

 

 

Radio Streaming Internet

Get the Flash Player to see this player.

Dengarkan di WINAMP :

Streaming Provider by :
KlikRadioInternet.com

.

Statistik
Unique Visitor
website hit counter
:. BANK TRANSFER .:
image

No.Rekening

6058-01-003168-53-5

a/n Majalah Gradasi

BRI Unit Sukun Semarang

Copyright © 2018 Gradasi-Magz.Com · All Rights Reserved