KEMATIAN, WUJUD CINTA SEJATI

Cerita Bersambung Episode IV

KEMATIAN, WUJUD CINTA SEJATI

oleh Anggraeni Muslimah

 

Sebentar lagi sudah waktunya pulang sekolah, Fira tidak memikirkan pelajaran, karena memang dia tidak pernah memikirkan pelajaran. Yang menarik perhatiannya pada siang hari ini adalah “Apa ya yang akan dilakukan Soma nanti di masjid, dia akan mempermalukanku di depan umum? Sepertinya nggak, Soma bukan tipe cowok kayak gitu, kalaupun memang dia akan mempermalukanku, aku rela, asal dia bahagia, aku hanya tidak kuat memandang dia menangis. Hal itu lebih menyakitkan dibanding sakit kepalaku .”

“Tumben? Kok diem hari ini?” tanya Dessy dipertengahan pelajaran Pak Frans.

“Nggak kok… pengen diem aja…” jawab Fira bohong. Dia hanya sedang memikirkan tindakan apa yang dapat menghilangkan keinginannya untuk memiliki Soma. Jika bertatap muka dengannya, dia seperti tidak berdaya, karena untuk memilikinya butuh sebuah keajaiban.

TEEET…!!!

Bel pulang sekolahpun berbunyi.

“Eh Des… aku nggak bisa pulang bareng nih… aku ada urusan soalnya…”

“OK… bye!”

Di dalam kelas sudah tidak ada sosok Soma, jadi kemungkinan besar Soma sudah pergi ke masjid. Fira bergegas karena tidak mau Soma menunggu terlalu lama.

Karena posisi masjid yang sangat strategis, Fira melihat Soma dari jauh, sedang duduk di teras masjid. Sedari tadi masuk kelas dan melihat wajah Fira, tampang Soma sudah murung sekali. Fira hanya tidak ingin membuat Soma tambah murung lagi. Jadi dia bergegas.

“Hai…” sapa Fira dengan napas tersengal-sengal begitu sampai di depan masjid.

“Hai,” balas Soma, “Langsung aja ya Fir, aku bukannya mau nantang kamu, aku juga bukan mau bikin kamu sengsara… sebenernya aku memang nggak cinta sama kamu…”

Hati Fira mencelos sakit sekali.

“Tapi, aku mau ngasih kamu kesempatan… sebentar lagi ada lomba cerdas cermat se- Jawa Tengah… nah, aku mau kamu ikut lomba itu. Kalau kamu bisa ngalahin Fauziah, aku akan jadi pacar kamu, aku akan coba untuk mencintaimu… gimana?” tanya Soma setelah selesai.

Fira menghembuskan napas perlahan-lahan. Ini dia, inilah kesempatannya, untuk membuktikan bahwa aku memang mencintai Soma. “OK… aku setuju!”

+++

“Des, kita belajar bareng yuk! Supaya aku bisa pinter!”

“Apa? Emang kenapa sih? Nggak ada angin… nggak ada ujan… kamu minta belajar bareng? Udah deh… ntar kalo ada apa-apa aku kasih contekan!”

“Bukan gitu… aku nggak mau! Please! Ya?” Fira memohon-mohon di dalam kelas waktu istirahat.

Sering sekali, hampir setiap permintaan dan permohonan Fira, Dessy tidak bisa menolaknya,

“Iya…OK!” jwab Dessy.

“Yuk ke kantin!” ajak Fira berdiri dan berjalan keluar kelas.

Di depan pintu kelas Fira, dia berpapasan dengan Soma. Dan Soma langsung berkata, “Inget ya Fir, lombanya dua minggu lagi!”

“Lomba apa sih Fir?” tanya Dessy setelah mendengar ucapan Soma barusan.

“Lomba apa? Nggak tahu! Dia ngigo mungkin?”

Dua minggu lagi? Itu berarti tepat pada hari vonis kematian Fira. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan? Pikir Fira. Apakah dia harus pergi sebelum mengucapkan ke semua orang bahwa dia sangat mencintai Soma? Bagaimana caranya?

Rasanya seperti pergi ke medan perang waktu belajar dengan Dessy, sakit sekali. Dan berkali-kali Fira harus mengernyit menahan sakit yang begitu dahsyatnya menyerang kepalanya.

“Fira, nggak usah dipaksain kenapa sih? Emang ada apa kamu tetep kekeuh mau belajar kayak gini? Nyiksa diri kamu sendiri tahu nggak?! Nih… minum dulu obatnya!” Dessy menyodorkan satu butir aspirin dan segelas air ke arah Fira.

Setelah tenang akhirnya Fira berkata kepada Dessy, “Please … aku mohon untuk terakhir kalinya… jangan nanya aku kenapa… karena aku nggak bisa jawab sekarang… aku mohon penuhi kemauanku…!” dia memohon sambil menggenggam tangan Dessy.

“Iya Fir… maafin aku ya…”

+++

Belajar kelompok dengan Dessy hasilnyapun sama seperti sebelumya. Malahan rasa sakit yang timbul selalu lebih sakit dari hari-hari sebelum-sebelumnya. Dan setiap Fira kesakitan air matanya selalu membasahi pipinya. Tapi walaupun begitu, rasa sayang dan cintanya kepada Soma semakin bertambah. Cara apa saja untuk bisa bertahan dan tetap hidup akan dilakukannya demi mewujudkan keinginannya. Kehidupannya menurut Dokter Nilam kurang dari dua minggu lagi, tapi dia tetap optimis dan tetap tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan.

Selama ini Fira selalu mengandalkan kecerdasan Dessy untuk bertahan hidup. Tapi sekarang dia harus berusaha sendiri untuk mewujudkan sekaligus dua keinginannya yaitu mengharumkan nama sekolah dan memberitahu semua orang bahwa dia sangat menyayangi Soma.

Sembari memegangi kepala yang bertambah sakit setiap detik, setiap menit, Fira mengerjakan soal-soal yang diberikan Dessy yang berjumlah dua puluh soal. Jika memang dia bisa mengerjakan itu semua atau prosentase benarnya lebih besar dari prosentase salahnya, Dessy akan menganggap bahwa Fira sudah layak untuk dikategorikan sebagai siswi pintar atau pantas mengikuti lomba cerdas cermat.

Setelah berhasil mengerjakan soal-soal itu sampai akhir, Fira menghempaskan kertas jawabannya kepada Dessy, dan dia sendiri menjatuhkan kepalanya di atas meja belajar.

Dessy memeriksanya dengan sangat teliti, mencocokan jawaban Fira dengan kunci jawaban yang sudah dia siapkan dari rumah sebelumnya. Sambil memeriksa dia mengangguk-angguk sendiri dan sesekali tersenyum. Dan sampai di soal nomor dua puluh, baru dia memekik kegirangan.

“Keren Fir! Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu dapet nilai sepuluh nih!” Dessy menyerahkan lembar jawaban Fira kepadanya. Dan di situ tertera angka sepuluh besar, ditulis dengan spidol warna merah.

Fira tersenyum ketika melihat kertas itu. Aku berhasil Soma… berkat kamu! Aku berhasil mendapat nilai sepuluh… murni kerja kerasku… kamu motivatorku… makasih ya! Dia menangis lagi, untuk kesekian kalinya. Tapi menurutnya, dan menurut Dessy yang sekarang juga mengeluarkan air mata, air mata ini bukan air mata kesakitan, tapi air mata rasa sayang yang tulus, cinta sejati yang tidak mengharapkan apa-apa.

+++

Satu minggu terakhir ini Fira gunakan hari-harinya hanya untuk belajar, belajar dan belajar. Dia hanya ingin Soma tahu bahwa dia sangat menyayangi Soma. Walaupun setiap kali dia membaca, kepalanya ingin dibuangnya jauh-jauh karena rasa sakit yang begitu menyiksanya.

Pada minggu terakhir ini, mama Fira menyatakan bahwa dia akan segera melangsungkan pernikahan dengan Tuan Sanatoso. Pernikahan ini hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat saja.

“Mama nggak mau ya Fir, kamu nanti di KUA pingsan… kamu harus jaga diri baik-baik ya!”

“Iya ma,” katanya pada empat hari terakhir menjelang kematiannya. Wajahnya sudah pucat sekali.

RING!

Handphone mamanya berbunyi, dan mamanya langsung mengangkatnya.

“Iya mas, ada apa?... oh ok, nggak apa-apa… mungkin dia nggak bisa datang karena nggak enak badan… iya, nggak apa-apa kok mas!”

“Dari siapa ma?” tanya Fira.

“Dari Om Santoso… katanya anaknya nggak bisa datang!”

“Kenapa?”

N tahu! Yaudah yuk sayang berangkat!”

Pernikahan berlansung lancar. Karena sudah menjelang malam, sanak saudara sudah pada pulang. Sampai akhirnya, hanya Fira, mamanya, dan Om Santoso yang sekarang menjadi papanya yang berada di depan gedung pernikahan.

“Eh ma… aku ambilin minum ya? Pada capek kan?”

“Iya deh…” jawab Tuan Santoso tersenyum.

“Mas, memang anak kamu itu namanya siapa sih? Masih sekolah?” tanya mama Fira begitu Fira pergi ke dapur untuk mengambil minuman.

“Anakku sekolahnya sama kok sama sekolahnya Fira. Namanya Soma Sadewa…”

PRANG!!!

Gelas-gelas yang dibawa Fira jatuh berantakan di lantai karena dia kaget mendengar perkataan papa tirinya.

+++

Sudah menjelang hari perlombaan, ketika Fira belajar untuk keseratus kalinya malam ini. Soma berkali-kali megingatkan bahwa, sebentar lagi dia harus melawan Fauziah dalam lomba cerdas cermat.

TRING!

SMS diterima.

From: Prince of my heart

Fir, jangan lupa besok kamu ada tanding lomba sama Fauziah!

To: Prince of my heart

Iya prince… aku belum pikun!

  

SMS seperti itu sering sekali diterima Fira akhir-akhir ini. Apa Soma sebegitu takutnya kehilangan Fauziah, sampai-sampai dia menerornya seperti ini. Pernah sekali Soma mengirim SMS seperti ini kepada Fira;

From: Prince of my heart

Apapun yang terjadi, walaupun kamu belajar terus sampai kepala kamu botak, kamu nggak bisa ngalahin Fauziah. Dia lebih segalanya dari kamu.

Walaupun hati Fira sakit sekali menerima SMS seperti itu, tapi dia tetap bertahan.

Wed, 12 Oct 2011 @10:19


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 8+0+3

Majalah Gradasi
image

Edisi Januari 2014

Pesan Telp: 024-76480185 SMS: 08562547735


Majalah Remaja Lepas-Bebas-Cerdas
Dibaca Enak, Ditenteng Nyaman
Artikel Terbaru
Arsip

::. RUBRIK PILIHAN .::
:. Redaksi .:

     

 

     

Kontak Kami Klik Disini

 

 

 

 

 

.: G-Magz Digital :.
:. DAFTAR BIRO .:
WEBMAIL

-Masukkan Email dengan Lengkap

 contoh : priyo@gradasi-magz.com

 Password (sering diganti)

:. Jam / Tgl Sekarang .:

See on Youtube
Tukar Link

Visitor
free counters
:. ADVERTENSI .:

          


  DeBest FM

ALFAMART
 
 
 
 
Panen Dollar Tiap Hari
:. Fan Page .:

 

 

Radio Streaming Internet

Get the Flash Player to see this player.

Dengarkan di WINAMP :

Streaming Provider by :
KlikRadioInternet.com

.

Statistik
Unique Visitor
website hit counter
:. BANK TRANSFER .:
image

No.Rekening

6058-01-003168-53-5

a/n Majalah Gradasi

BRI Unit Sukun Semarang

Copyright © 2018 Gradasi-Magz.Com · All Rights Reserved